Sekilas

Jumat, 14 November 2014

Manajemen Kandang Ayam Broiler

Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan berhasil guna. Ayam broiler selama masa pemeliharaan akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus dirancang dan ditata senyaman mungkin dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah penyediaan ventilasi, litter, sirkulasi udaran dan penerangan.

1. Ventilasi
Sistem ventilasi secara kerja dibedakan atas sistem ventilasi alami dan sistem ventilasi mekanis. Tipe sistem ventilasi pada open house dan closed house menurut (Stig Veis Jorgensen dalam tulisannya pada trobos.com) membedakan bahwa tipe ventilasi open house diistilahkan dengan ventilasi alami, sedangkan closed house ventilasi mekanis.
Ventilasi alami sangat bergantung pada lingkungan luar kandang. Tirai difungsikan untuk memasukkan dan mengeluarkan udara. Satu sisi dinding sebagai pemasok udara dan satunya lagi sebagai pengeluar udara. Namun faktanya ventilasi ini akan sangat bergantung pada arah angin. Sedangkan ventilasi mekanis, udara segar dari luar masuk melalui inlet. Lalu udara panas, debu, dan gas (CO2, CH4, NH3 dan H2S) dalam kandang ditarik ke luar menggunakan exhaust fan.
Tujuan utama sistem ventilasi kandang adalah memberikan kenyamanan pada ayam yang dipelihara. Penggunaan sistem ventilasi natural tidak selalu bisa memberikan kenyamanan, karena pakah ventilasi natural bisa kurang mampu untuk menyediakan suhu tertentu secara konstan dalam 24 jam dan tidak setiap saat ada hembusan angin. Bila ada, kecepatannya belum tentu sesuai. Ini akan berpengaruh pada suhu dan kelembaban dalam kandang.
Sistem ventilasi pada closed house pun ada beberapa tipe dan tidak semua tipe cocok diaplikasikan di Indonesia. Sistem ventilasi berkembang di beberapa negara subtropis (memiliki 4 musim), sehingga perlu analisa dan penyesuaian bila akan diaplikasikan di Indonesia. 3 tipe sistem ventilasi pada closed house: cross-flow atau juga disebut side-mode, tunnel, dan combi-tunnel.

2. Kecepatan Angin
Angin akan mempengaruhi kecepatan penyebaran polutan dengan udara di sekitarnya. Kecepatan angin yang semakin tinggi menyebabkan pencampuran dan penyebaran polutan dari sumber emisi di atmosfer akan semakin besar sehingga konsentrasi zat pencemar menjadi encer begitu juga sebaliknya. Hal ini akan menurunkan konsentrasi zat polutan di udara (Hasnaeni, 2004).
Arah angin berperan dalam penyebaran polutan yang akan membawa polutan tersebut dari satu sumber tertentu ke area lain searah dengan arah angin. Kecepatan angin memegang peranan dalam jangkauan dari pengangkutan dan penyebaran polutan. Kecepatan angin mempengaruhi distribusi pencemar, konsentrasi pencemar akan berkurang jika angin berkecepatan tinggi dan membagikan kecepatan tersebut secara mendatar atau vertikal (Sastrawijaya, 1991).
Pengaturan angin bisa dilakukan dengan penggunaan kandang panggung dengan ketinggian sekitar 1,25-2 m karena memiliki sirkulasi udara yang baik atau juga menggunakan blower atau kipas dengan kecepatan angin < 2,5 m/s dan arah aliran anginnya juga harus searah, biasanya dari depan ke belakang dengan penggunaan exhaust fan di bagian belakang.

3. Litter
Lantai kandang menggunakan sistem litter biasanya dilakukan dengan sekam padi. Litter adalah hamparan alas kandang yang berguna sebagai alas tidur, penghangat bagi ayam dan mengurangi kelembaban lantai kandang. Ketebalan sekam padi sekitar 15-20 cm.
Menurut Rasyaf (2003), keuntungan sistem litter adalah menurunkan peluang ayam lepuh dada, sedangkan kerugiannya yaitu alas kandang mudah dan cepat basah dan menimbulkan bau tidak sedap yang dapat menyuburkan bibit penyakit terutama CRD (Chronic Respiratory Disease). Sedangkan hasil penelitian dari (Muharlien, dkk.2011) menunjukkan bahwa penggunaan proporsi sekam, pasir dan kapur dalam litter memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan, tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap konversi pakan. Penggunaan litter yang terdiri dari 50 % sekam, 33 % pasir dan 17 % kapur dapat meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan pada ayam pedaging dan tidak menurunkan konversi pakan.

4. Penerangan
Cahaya sangat diperlukan oleh ayam broiler terutama pada umur tujuh hari pertama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah total lama pencahayaan bukan merupakan aspek yang penting dalam pengaturan cahaya bagi ayam broiler. Ayam broiler tidak melakukan aktivitas pada Periode gelap (tanpa cahaya) dan memberi kesempatan kepada ayam broiler untuk mencerna makanan secara sempurna (Classen, 1989) dalam Rustam (2012).
Ayam broiler yang tetap berada pada posisi ritme harian, mampu mengatur pola tingkah laku seperti makan, tidur, bergerak dan istirahat secara normal (Olanrewaju et al., 2006) dalam Andisuro (2011). Pencahayaan secara bergantian (intermitten lighting) akan mengurangi stres pada ayam broiler dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus yang diukur berdasarkan konsentrasi plasma kortikosteron. Plasma kortikosteron akan meningkat pada ayam broiler yang mengalami stres (Puvadolpirod dan Thaxton, 2000) dalam Andisuro (2011).


DAFTAR PUSTAKA
Andisuro, R. 2011. Ayam Broiler. Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.
Dickson, J. S., 1991. Control of Salmonellatyphimurium, Listeriamonocytogenes, an   Escherichiacoli0157:H7 on beef in a model spray chilling system.  J. Food Sci. 56:191‑193.
Hadiwiyoto, S.,  1992.  Kimia dan Teknologi Daging Unggas.  Buku Monograf. PAU Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hasnaeni, B. 2004. Fungsi pengaman dan estetika jalur hijau jalan (studi kasus di Jalan Pajajaran – Bogor). Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
May,  K. N.,   1974.  Changes  in  microbial  numbers  during  final  washing  and  chilling of commercially slaughtered broilers. Poultry Sci. 53:1282‑1285.
Mountney, G. J., 1976. Poultry Product Technology. 2nd ed. The Avi Publishing Co.,  Inc., Westport, Connecticut.
Parry, R.T., 1989. Technological Development in Preslaughter Handling and Processing. Dalam: Processing of Poultry. Hal: 65‑102. G. C. Mead, Ed.Elsevier Science Publisher Ltd., England.
Rachmawati, Sri. 2000. Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan Ayam. WARTAZOA Vol. 9 No. 2 Th. 2000
Siregar, A. P., M. Sabrani dan P. Suroprawiro, 1980. Teknik Beternak Ayam Ras di Indonesia. Cet. ke‑1. Margie Group, Jakarta.
Rasyaf, M., 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta. Utama, Jakarta.
Rustam, A.  2012. Pengaruh Cahaya Dalam Pemeliharaan Ayam Broiler. http://catatanpeternak.blogspot.com/2012/10/makalah-pengaruh-cahaya-terhadap.html. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013
Sastrawijaya, T. 1991. Pencemaran Lingkungan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016