Sekilas

Jumat, 14 November 2014

Pengolahan hijauan silase jerami jagung



PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Pada saat musim panen jagung ketersediaan jerami jagung sangat melimpah, begitu selesai masa panen jagung tidak jarang jerami jagung menjadi langka. karena itu teknologi pengolahan pengawetan jerami jagung perlu dibudayakan oleh petani ternak guna tersedianya hijauan pakan ternak sepanjang tahun.
Pemanfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal sebagai jerami jagung. Jerami jagung dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak yang sudah banyak dilakukan petani, namun belum seluruh pemanfaatannya secara optimal. Selain diberikan pada ternak sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan sebagai hijauan pakan ternak dengan mengalami proses pengolahan teknologi pakan contohnya dalam bentuk silase. Penggunaan silase dimaksudkan untuk menambah daya simpan serta dapat meningkatkan kualitas mutu pakan.
Seiring berkembangnya daerah-daerah sentra tanaman jagung yang berguna untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak, tidak menutup kemungkinan juga dapat dikembangkan menjadi kawasan daerah potensi petani penghasilan olahan hijauan hasil ikutan tanaman jagung berupa silase yang akan memberikan nilai tambah pada pendapatan keluarga petani.

1.2       Maksud dan Tujuan
  1. Untuk mengetahui dan memahami mengenai pemanfaatan jerami jagung sebagai bahan pembuatan silase
  2. Mengetahui dan memahami mengenai kualitas silase jerami jagung dan hasil pembuatan silase
  3. Mengetahui dan memahami mengenai faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pembuatan silase

1.3       Kegunaan
Pada praktikum mengenai pengolahan pakan ini, diharapkan dengan adanya teknologi pengolahan silase dapat membantu dalam ketersediaan pakan hijauan sepanjang tahun.


II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1.  Gambaran Umum Jerami Jagung
Limbah tanaman pangan memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat digunakan sebagai makanan ternak. Karakteristik limbah tanaman pangan secara umum dengan kualitas nutrisi yang rendah sehingga memiliki keterbatasan dalam penggunaannya sebagai pakan ternak (Shanahan, dkk., 2004).
Jerami jagung merupakan hasil ikutan bertanam jagung dengan tingkat produksi mencapai 4-5 ton/ha. Kandungan nutrisi jerami jagung diantaranya protein 5,56%, serat kasar 33,58%, lemak kasar 1,25, abu 7,28 dan BETN 52,32%. Dengan demikian, karakterisitik jerami jagung sebagai pakan ternak tergolong hijauan bermutu rendah dan penggunaannya dalam bentuk segar tidak menguntungkan secara ekonomis. Selain itu, jerami jagung memiliki kandungan serat kasar tinggi sehingga daya cernanya rendah.
Kualitas jerami jagung sebagai pakan ternak dapat ditingkatkan dengan teknologi silase yaitu proses fermentasi yang dibantu jasad renik dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Teknologi silase dapat mengubah jerami jagung dari sumber pakan berkualitas rendah menjadi pakan berkualitas tinggi serta sumber energi bagi ternak (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2011)

2.2.  Gambaran Umum Molases
Molases adalah hasil ikutan dari limbah perkebunan tebu yang berwarna hitam kecoklatan kandungan gizi yang cukup baik didalamnya sangat baik digunakan sebagai bahan tambahan pakan ternak, selain itu molases juga mengandung vitamin B kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak seperti kobalt, boron, jodium, tembaga, mangan dan seng, namun molases memiliki kelemahan yakni kadar kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare bila dikonsumsi terlalu banyak.  Keuntungan penggunaan molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai gula), kadar mineral cukup dan disukai ternak (Yudith, 2010).

2.3.  Definisi Silase
Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi hijauan pakan dengan kandungan air yang tinggi. Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan , limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara , yang biasa disebut dengan Silo, selama sekitar tiga minggu (Siregar, 1996)

2.4.  Tujuan Pembuatan Silase
Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak, sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau (Lestarimandiri.org. 2011)

2.5.  Proses Pembuatan Silase
Prinsip utama pembuatan silase adalah:
1.                       Menghentikan pernafasan dari sel-sel tanaman; dengan kondisi anaerob
2.    Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara
3.                       Menahan aktifitas enzyme dan bakteri pembusuk (Bolsen, dkk. 2000).

Proses fermentasi secara anaerob (kedap udara) dapat dipengaruhi pula oleh kepadatan bahan. Pemadatan bahan baku silase terkait dengan ketersediaan oksigen di dalam silo, semakin padat bahan, kadar oksigen semakin rendah sehingga proses respirasi semakin pendek (Regan, 1997).

2.6.  Kualitas Silase
Secara keseluruhan kualitas silase dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : asal atau jenis hijauan, temperatur penyimpanan, tingkat pelayuan sebelum pembuatan silase, tingkat kematangan atau fase pertumbuhan tanaman, bahan pengawet, panjang pemotongan, dan kepadatan hijauan dalam  silo (Regan, 1997).
Sementara menurut Cullison (1975) dan Utomo (1999), bahwa karakteristik silase yang baik adalah :
1.    Warna silase, silase yang baik umumnya berwarna hijau kekuningan atau kecoklatan. Sedangkan warna yang kurang baik adalah coklat tua atau kehitaman.
2.    Bau, sebaiknya bau silase agak asam atau tidak tajam. Bebas dari bau manis, bau amonia dan bau H2S.
3.    Tekstur, kelihatan tetap dan masih jelas. Tidak menggumpal, tidak lembek dan tidak berlendir.
4.    Keasaman, kualitas silase yang baik mempunyai pH 4,5 atau lebih rendah dan bebas jamur.


IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
4.1.1. Perhitungan penggunaan bahan silase
·         Jerami jagung (% BK) = 40/100 x 20 kg = 8 Kg
·         Molases (2,8%) = 2,8/100 x 8 Kg = 0,224 Kg = 224 gram

Setiap lapisan menggunakan kadar molases yang berbeda yaitu 20%, 30% dan 50% dengan perhitungan sebagai berikut :
  • Lapisan pertama          : 20/100 x 0,224 Kg = 0,0448 Kg
  • Lapisan kedua             : 30/100 x 0,224 Kg = 0,0672 Kg
  • Lapisan ketiga             : 50/100 x 0,224 Kg = 0,82 Kg

4.1.2. Penilaian dan Evaluasi
Daftar Tabel Standar Penilaian Terlampir

4.2. Pembahasan
4.2.1. Bau
Berdasarkan hasil uji kualitas silase pada parameter bau dapat diketahui bahwa silase yang dihasilkan memiliki bau yang khas berupa bau asam yang segar dengan penilaian tertinggi yakni 25 poin. Bau asam yang muncul pada hasil akhir pembuatan silase disebabkan karena adanya penambahan molases pada jerami jagung yang dibuat silase. Dimana molases akan dimanfaatkan oleh mikroba dalam proses fermentasi yang akan menghasilkan asam laktat. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudith (2010bahwa pengolahan bahan pakan dengan penambahan molases sebagai pakan ternak mempunyai kadar karbohidrat tinggi 48-60% sebagai gula, kadar gula inilah yang dimanfaatkan mikroba sebagi sumber energi yang diubah menjadi asam laktat sehingga menghasilkan bau asam yang segar, dan hasil ini sesuai bahwa kualitas silase yang baik menurut Cullison (1975) sebaiknya bau silase agak asam atau tidak tajam.

4.2.2. Cita Rasa
Berdasarkan hasil praktikum bahwa dari cita rasa yang didapat ialah rasa asam segar hampir mirip menyerupai yoghurt, sehingga terbukti bahwa fermentasi asam laktat berlangsung dengan baik.. Hasil ini sesuai dengan pendapat Siregar (1996) yang menyatakan bahwa fermentasi berlangsung baik apabila didapatkan suasana bahan menjadi asam dengan derajat keasaman optimal. Rasa asam dapat dijadikan sebagai indikator untuk melihat keberhasilan proses ensilase, sebab untuk keberhasilan proses ensilase harus dalam suasana asam.

4.2.3. Warna
Berdasarkan hasil uji kualitas silase dengan parameter warna dapat dilihat bahwa silase yang dihasilkan berwarna kuning kecoklatan. Hal ini dipengaruhi oleh warna dari bahan dasar yang yang digunakan dalam pembuatan silase yaitu jerami jagunf. Hal ini sesuai dengan pendapat Cullison (1975) menyatakan  bahwa silase yang baik memiliki warna yang tidak jauh berbeda dengan warna bahan dasar itu sendiri.

4.2.4. Tekstur (Sentuhan)
Berdasarkan hasil uji kualitas silase pada parameter tekstur dapat diketahui bahwa silase yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut dan masih utuh. Dari segi tekstur dapat diketahui bahwa silase yang dihasilkan tergolong berkualitas baik karena pada saat dibuka silase tersebut masih utuh, remah dan lembut  dan tidak berjamur. Hal ini sesuai dengan Cullison (1975)  yang menyatakan bahwa silase yang berkualitas baik mempunyai ciri-ciri tekstur, kelihatan tetap dan masih jelas, tidak menggumpal, tidak lembek dan tidak berlendir.
Berdasarkan hasil uji kualitas silase pada ada tidaknya jamur dapat diketahui bahwa silase yang dihasilkan tidak ditumbuhi oleh jamur. Hal ini menunjukkan bahwa silase yang telah dibuat memiliki kualitas baik, pertumbuhan jamur pada silase dapat disebabkan karena kondisi lingkungan yang mempunyai kelembapan tinggi, adanya aliran udara didalam silo, maupun kadar air hijauan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Regan (1997) yang menyatakan bahwa apabila udara (oksigen) masuk maka populasi yeast dan jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi.

4.2.5. Palatabilitas
Pengujian terakhir yang dilakukan yakni pengujian biologis yaitu dengan memberikan silase pada ternak secara langsung guna melihat nilai palatabilitasnya. Didapatkan bahwa pada 4 ternak yang diambil sampel, 3 dari ternak menyukai silase atau dengan kata lain bahwa nilai palatabilitas cukup tinggi sekitar 75%.




V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum pembuatan silase dapat disimpulkan bahwa :
1.    Pengolahan teknologi pakan secara silase dapat menjadi sakah satu solusi guna kebutuhan penyediaan pakan hijauan bagi sapi perah
2.    Dalam pembuatan silase dengan perbandingan jerami jagung  20 Kg dan molases sebanyak 2,8% dari bahan keringnya didapatkan hasil uji kualitas silase yang memiliki bau yang khas berupa aroma asam segar, dengan warna yang kuning kecoklatan, sedangkan dari segi tekstur silase yang telah dibuat bertekstur lembut dan utuh, dengan pH asam dan tidak adanya jamur.
3.    Berdasarkan hasil yang didapat secara umum dapat diketahui bahwa dengan penggunaan konsentrasi molases sebanyak 2,8% dari segi warna, bau dan tekstur silase menunjukkan kualitas yang baik dibandingkan dengan kelompok lain yang menggunakan 2,5% dan 2,3%.




DAFTAR PUSTAKA

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2011. Teknologi Pembuatan Silase Jagung Untuk Pakan Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Solok. http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/teknologi-pembuatan-silase-jagung.html Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
Bolsen KK, Ashbell G, Wilkinson JM. 2000. Biotechnology in Animal Feeds and Animal Feeding : Silage Addtive. Weinheim. New York. Basel. Cambridge. Tokyo : VCH.
Cullison, A. E. 1975. Feed And Feding. University Of George Reston Publishing Company Inc. Virginia.
Lestari mandiri. 2011. Pembuatan Silase. http://www.lestarimandiri.org/id/peternakan/pakan-ternak/155-pembuatan-silase.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
Regan, C.S. 1997. Forage Concervation in The Wet/ Dry Tropics for Small Landholder Farmers. Thesis.Faculty of Science, Nothern Territory University, Darwin Austalia.
Shanahan JF, Smith DH, Stanton TL, Horn BE. 2004. Crop Residues for Livestock Feed. Colorado: CSU Cooperative Extension - Agriculture, Colorade State University. http://www.ext.colostate.edu/pubs/ crops/00551.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
Siregar, S.B. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Utomo, R. 1999. Teknologi Pakan Hijauan. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yudith Taringan A., 2010. Pemamfaatan Pelepah sawit dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016