Sekilas

Jumat, 14 November 2014

Koefisien Teknis Perencanaan Usaha Ayam Pembibit

Prospek industri pembibitan ayam di Indonesia sangat menguntungkan, melihat tingginya permintaan pasar akan konsumsi daging ayam dan telur. Untuk menghasilkan bibit yang berkualitas tidak terlepas dari beberapa koefisien mulai dari hal pemeliharaan, kandang, dan prospek usahan yang dapat dijabarkan melalui beberapa hal berikut:

3.1.1. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih. Merupakan strain murni (pure breed) dan tidak pernah disilangkan dengan ayam manapun (F1).

3.1.2. Perkandangan dan Bangunan Pendukung
Perkandangan yang digunakan adalah close house dengan sistem litter dan terdiri dari tiga buah kandang yaitu kandang untuk DOC (starter), kandang pullet (grower), dan kandang produksi (layer). Jarak antar kandang 20 m. Hal tersebut untuk mengurangi penyebaran penyakit. Untuk kandang fase starter hanya dibangun satu buah kandang dengan luas 60 m2 (6 m x 10 m) dengn kapasitas 1000 ekor. Sedangkan untuk kandang fase grower dan fase produksi masing-masing dibangun tiga buah kandang dengan jarak antar kandang 4m. Untuk luas kandang fase grower 160 m 2 (8 m x 20 m) dengan kapasitas 1000 ekor, dan luas kandang fase produksi 600 m2 (20 m x 30m) dengan kapasitas 1000 ekor dilengkapi dengan sarang (nest). Desain kandang, bangunan lainnya adalah kantor dengan luas 30 m 2, ruangan penetasan 80 m2, mess untuk karyawan tetap 120 m2, gudang pakan 100 m2, dan gudang peralatan 40 m2.
Ada dua tipe kandang pada ayam pembibit, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah (free-fall), tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar biasanya digunakan setelah ayam memasuki fase laying. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah dan digunakan pada fase pemeliharaan yaitu ketika starter dan grower.

  1. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat, serta dekat dengan sarana produksi (poultry shop).
  1. Suhu udara dalam kandang.
Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari)
Suhu ( °C )
01 – 07
34 – 32
08 – 14
29 – 27
15    – 21
26 – 25
21 - 28
24 – 23
29 – 35
23 – 21

  1. Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernafas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.

3.1.3. Tata Laksana Pemeliharaan
  1. Teknis Pemeliharaan fase starter
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit
  1. Teknis Pemeliharaan fase grower
Pada fase growing, kepadatan kandang harus diperhatikan. Biasanya pada model kandang litter kepadatan 6–8 ekor/m2 dan kepadatan kandang slatadalah 8-10 ekor/m2. Bila kandang terlalu padat dan litter kurang terkontrol, berdampak pada tingginya amoniak dalam kandang. Kadar amoniak dalam kandang maksimal sebesar 20 ppm. Untuk pakan, pada ayam umur 9-15 minggu sebaiknya kadar protein diturunkan agar ayam banyak makan. Tujuannya adalah agar  temboloknya melar, usus, pencernaan, dan hati terpacu dan ukurannya membesar.
  1. Teknis Pemeliharaan fase laying
Produksi telur pada ayam breeder dimulai pada saat ayam berumur 24 minggu. Pada permulaan produksi telur, persentase produksi hen day sekitar 5 %. Persentase tersebut meningkat dengan cepat pada 8 minggu pertama produksi telur. Pada saat ayam berumur 31-32 minggu, produksi telur mencapai puncaknya dengan persentase produksi hen day lebih dari 80 %. Produksi telah mencapai puncaknya apabila selama 5 hari berturut-turut produksi telur tidak meningkat. Setelah mencapai puncaknya, persentase produksi hen day menurun secara konstan dengan laju penurunan sebesar 1% per minggu. Pada saat ayam berumur 65 minggu, persentase produksi hen day telah berada di bawah angka 50%. Pada saat tersebut, produksi telur dapat dikatakan telah berhenti. Pullet adalah ayam yang dipelihara di umur 0-16 minggu. Pendapat lain menyatakan bahwapullet adalah ayam masa DOC hingga masa bertelur di bawah 5%. Berdasarkan kebutuhan nutrisi, pullet terbagi dua yaitu starter (0-5 minggu) dan grower (6-16 minggu).

3.1.4. Pakan
Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran atau starter (umur 0 sampai 8 minggu), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut grower (umur 8 – 16 minggu), yang memakai pakan berkadar protein diabatasi sekitar18 %.
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.

3.1.5. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 dan 21 hari.

3.1.6. Penyakit
Beberapa macam enyakit yang sering menyerang ayam mulai dari periode pemeliharaan hingga periode laying yaitu :
  1. Tetelo (Newcastle Disease/ND), disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 – 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan melalui kotoran dan pernafasan.
  2. Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD), Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Pencegahan dilakukan dengan pemberian vaksin Gumboro.
  3. Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease), Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.
  4. Berak Kapur (Pullorum), Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik.

3.1.7. Sanitasi/Cuci Hama Kandang
Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
Asumsi dan koefisien teknis pada usaha pembibitan ayam dapat dilihat di tabel berikut:
Aspek Teknis
Koefisien
Satuan
Target penjualan DOC Betina
20.000
ekor/bulan
pembelian DOC PS
1.000
Ekor
Ayam Betina
90
%
Pengafkiran ayam
18
Bulan
Jumlah ayam afkir
964
ekor/periode produksi
Fase starter
2
Bulan
Mortalitas Fase starter
2
%/periode
Fase grower
4
Bulan
Mortalitas Fase grower
1
%/periode
Fase produksi
12
Bulan
Mortalitas Fase produksi
1
%/periode
Jumlah hari rata-rata
30  hari/bulan
Daya tetas
85  %
Waktu Penetasan
21  hari
sex ratio DOC betina
50  %
Konsumsi pakan

Fase starter
2.000  gram/periode
Fase grower
100  gram/ekor/hari
Fase produksi
110  gram/ekor/hari
Manure
100  kg/kandang/bulan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016