Sekilas

Rabu, 08 April 2015

Jeweran untuk masyarakat Sunda?


Clom, kunyunyut, giriwil...
Kenapa dibilang jeweran, menurut  KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) bahwa men·je·wer  ialah menarik (memilin) telinga yang dapat berati menegur atau memperingatkan. Teguran ini bersifat pribadi untuk saya probadi dan masyarakat Sunda umumnya yang telah melupakan falsafah budaya nya sendiri. Diskusi ini saya dapatkan setelah berbincang dengan sang Prof, Sjafril Darana lulusan pertama Fapet Unpad.
jeweran pertama,
Di tengah guyuran hujan deras dan jalanan becek yang kami lintasi, menyusuri lereng-lereng sekitar bendungan Saguling, Rajamandala. Sebenarnya Rajamandala sendiri bukan sebuah daerah yang asing bagi saya, hampir setiap tahun ketika idul fitri saya mengunjungi rumah mendiang kakek disana, tapi untuk pertama kalinya saya mencoba masuk ke desa Jati yang bisa dibilang merupakan ujung dari kecamatan saguling.
Sebagai urang sunda sendiri, atau lebih tepatnya urang bandung saya merasa malu untuk seorang yang hidup sehari-hari di Bandung tidak mengenal daerahnya sendiri.bahkan untuk mencapai desa jati saja harus bertanya berpuluh-pulh kali...Malu itu...
Ini menjadi semakin kompleks apabila dikaitkan dengan para inohong-inohong Jawa Barat yang terkadang mereka tidak mengenal daerah-daerahnya sendiri...hanya berani blusukan ke daerah daerah ketika butuh suara dalam pemilihan legislatif, yang cukup dengan satu jam dua jam turun kesawah mengatakan kami membantu dan mengerti permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Ataupun para mahasiswanya sendiri yang berdemo dan  berkata “menyuarakan suara rakyat”. Rakyat mana sih yang kalian bela.
Lantas yang menjadi pertanyaan “tos kamana wae anjeun di Bandung?” kalau hanya mengenal TSM, Ciwalk, Amnes, Kawah Putih, Ciater....malu saya mah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016