Sekilas

Minggu, 22 Januari 2017

Lupus - 07 Kebanjiran

 
Daerah tempat Lupus tinggal termasuk daerah yang cukup aneh juga. Suka kebanjiran. Nggak peduli hujan lebat atau sekedar rintik-rintik, ya tetap kebanjiran. Kalau sudah begitu, daerah sekelilingnya menjadi nggak ketulungan beceknya. Kayak kandang bebek. Namun Lupus toh tak pernah sombong meski tinggal di daerah elit macam begitu. Biasa-biasa aja. Dan banjirnya nggak menentu juga. Kadang-kadang meski hujan turun dengan derasnya sehari semalam, besok paginya malah nggak banjir. Sebaliknya, seperti hari itu, hujan turun cuma sebentar, tapi bisa membuat daerah situ menjadi danau buatan. Jadi, ya suka suka aja banjirnya. Nggak bisa dipaksa. Kata orang sih itu banjir kiriman dari bogor. Tapi Lupus nggak percaya. Masalahnya, apa orang-orang bogor segitu kurang kerjaannya sampai sempat sempatnya ngirim banjir segala ke rumah Lupus? Lagian, memaketkan air sebanyak itu rada sulit juga lho! Belum lagi ongkos kirimnya. Jadi jelas bo’ong.

   Lantas, dari mana banjirnya?

   Entahlah. Yang pasti saat itu Lupus lagi tertidur dengan nyenyaknya, ketika orang seisi rumah pada ribut-ribut kebanjiran. Soalnya tadi sore Lupus baru ikutan latihan atletik sekolah di senayan, dalam rangka memperingati Hari ABRI tanngal 5 Oktober. (Lho, apa hubungannya?) Sore itu Lupus lari-lari keliling stadion utama, lompat jauh, tolak peluru, sampai lemas total. Begitu pulang, langsung bobok. Tanpa cuci kaki, copot sepatu apalagi sikat gigi terlebih dahulu Tapi katanya, Lupus suka ikut kegiatan atletik begitu, untuk menjaga kelangsingan tubuhnya (duile!)

   Makanya sekarang dia nggak tau kalau air sudah masuk ke rumahnya. Saat itu sudah agak malam pukul 21.30. di luar kamarnya, ibunya beserta para asistennya (alias babu-babunya) dan Lulu sudah ribut-ribut mengangkat perabotan rumah. Mendengar ribut-ribut begitu, Lupus langsung terbangun. Sempat juga mikir, siapa yang malam-malam begini buka bazar? Tapi dia kaget waktu ngeliat sandalnya dengan cueknya piknik ke mana-mana. Sementara botol-botol bekas yang menjadi koleksinya asyik berkejar-kejar ria ke sana kemari. Lupus melompat turun, dan seketika itu juga dia baru sadar kalau rumahnya kebanjiran. Tamu nggak tau diri, makinya pada banjir, nggak diundang nekat datang. Apa ada urusan yang begitu pentingnya, sehingga nggak bisa ditunda sampai besok pagi?

   “Pus, Lupus, bangun. Ada banjir nih!” seru ibunya sambil menggedor-gedor pintu

   “Ya, tunggu sebentar. Suruh duduk aja dulu, dan tawarkan minum, barangkali dia haus setelah berjalan jauh Bogor-Jakarta,” jawab Lupus sambil bergegas membuka sepatunya yang belum terbuka. Lalu dia pun langsung keluar kamar

   Keadaan kamar rumah Lupus begitu porakporanda. Kasur-kasur yang digulung, sepatu barunya si Lulu, tivi, kaset, video, semua ngumpul jadi satu di meja makan. Belum lagi karpet bulu yang ngujubileh bin jalik baunya, lantaran nggak sempat diangkat ketika air menyerbu masuk. Praktis rumah Lupus jadi kayak kolam renang balita. Air sebatas mata kaki menggenang di mana-mana. Belum lagi para kecoa, cacing dan binatang yang bisa membuat Lulu histeris lainnya pada transmigrasi ke situ. Tapi Lupus yang kalau ngeliat air bawaannya kepingin berenang melulu (kayak bebek!), cenderung jadi suka dengan situasi begitu. Dari tadi asyik mondar-mandir ke sana kemari. Ribut sekali. Dan yang bikin sial adalah dipadamkannya aliran listrik, karena memang berbahaya dalam situasi kebanjiran seperti itu.

   Walhasil, semalaman mereka semua nggak ada yang bisa tidur. Pada begadang. Yang kasihan sih Lulu. Dia besok pagi ada ulangan kimia. Mana bisa ngapalin dalam situasi yang porakporanda seperti itu? Belum lagi pe-er matematikanya yang belum dia buat. Wah, rasanya mau nangis aja.

   Maka dengan ditemani lilin, dia duduk di pojokan. Ngapalin kimia. Tapi konsentrasinya tak bisa terus terpusat, karena Lupus yang hilang rasa kantuknya, terus-menerus menggoda. Dia kalau lagi senang memang ngoceh melulu. Nggak bisa kalem

   “Kamu kok pendiem amat, Lu?” godanya ketika Lulu lagi asyik memusatkan konsentrasi. “Lagi baca surat cinta, ya?”

   Lulu cuek

   Mendingan kita main tebak-tebakan aja. Kucing apa yang kalau loncat dari Monas kagak mati?” cerocos Lupus

   “Kuno!”

   “Oke deh, yang lainnya. Kenapa pantat orang itu cenderung keriput?”

   Lulu mendelik sewot. “Kamu kok jorok gitu sih? Diem dong, jangan ngoceh melulu. Nggak tau ya saya lagi ngapalin?”

   “Bilang aja kalau nggak bisa jawab!”

   “Siapa bilang? Tapi buat menjawab teka-teki yang kagak ilmiah sih, buat apa?

   “Lho, ini ilmiah. Dan siapa tau keluar dalam ulangan kimia kamu besok. Ya, siapa tau aja. Mau tau jawabannya? Karena pantat sering dicuci tapi nggak pernah diseterika. Makanya keriput...”

   Lulu menyembunyikan senyumnya di balik buku kimia.

   “Terus, ayam apa yang kalau kita masuk ke kandangnya selalu dikira kita mau ngasih makan?”

   “Ayam ge-er!” sahutnya cepat, menjawab pertanyaan sendiri. Bukan takut keduluan kejawab sama Lulu, tapi dia merasa pertanyaan rada sukar dan tak mungkin bisa dijawab. Tapi seketika itu juga, dia kaget. Dia baru inget kalau letak kandang ayam peliharaannya cukup rendah. Pasti kebanjiran. Maka Lupus pun langsung berlari ke belakang. Ibunya sempat gahar, ketika lagi asyik-asyik bengong di atas tumpukan kasur, kena cipratan kaki Lupus.

   “Oh, ayam-ayamku sayang!” sahutnya sedih, ketika melihat ayam-ayamnya tampak pasrah terjebak di kandangnya yang tergenang air. Beberapa di antaranya malah pingsan. (Eh, ayam itu bisa pingsan nggak sih? Bisa ja ya kalau lagi shock berat). Lupus langsung memindahkannya ke kandang yang lebih tinggi. Mengumpulkannya jadi satu. Ayam-ayam yang tadinya asyik sendirian di kandang yang di atas menatapnya dengan pandangan tak suka ke arah Lupus. Protes berat dia, karena jadi berdesakan dengan ayam-ayam lainnya. Lupus sendiri cuek aja ketika ayam-ayam itu pada kurang ajar. Nemplok di rambutnya yang kayak sarang burung, atau berkaok-kaok dengan ributnya. Tapi ya kalau ayam lagi panik memang begitu kok.

   Tak lama kemudian, Lupus sudah asyik menggoda Lulu lagi.

   “Sekarang, ayam apa yang selalu berkokok tepat jam satu malam?”

   “Lupus, kamu nggak bisa diem ya? Bukannya nolongin saya yang lagi kebingungan!”

   “Nggak usah bingung. Jawabnya mudah kok; ayam kurang kerjaan.”

   “Kalau kau memang suka pada hal-hal yang berbau teka-teki begitu, kenapa nggak nolongin saya bikin pe-er matematik aja? Ayo dong, Pus. Saya nggak sempet nih!”

   “Wah sori, Lu, saya lagi sibuk,” sahut Lupus sambil asyik mengejar-ngejar kodok yang nyasar masuk ke rumahnya. Kemudian dia duduk di pagar depan rumahnya. Asyik melihat-lihat orang yang pada ngungsi, karena daerah rumahnya lebih rendah dari rumah Lupus. Atau menggoda cewek-cewek yang lewat sambil menjinjing perabotan-perabotan. Suasana di depan rumah Lupus itu memang ramai sekali. Banyak anak-anak yang hilir mudik.

   “Pus, rumah kamu kemasukan air nggak?” sapa Ika, tetangganya yang kebetulan lewat, sambil mendongakkan kepalanya ke dalam rumah Lupus.

   “Memangnya kenapa?” tanya Lupus galak. “Mau numpang berenang, ya? Boleh aja kok. Cuma, boleh diintip nggak?”

   Ika keki. Langsung ngeloyor pergi.

   Lulu juga keki. Dia sebel setengah mati ngeliat tingkah Lupus yang sama sekali nggak mau menolongnya. Tapi dia kini mencoba konsentrasi lagi pada pelajaran. Lulu menyesal juga, kenapa nggak dari tadi siang atau kemarin-kemarin aja menghapalnya. Jadi kan nggak kerepotan seperti ini. Anak sekolah memang rata-rata begitu. Meski pengalaman bersekolah sudah sejak kecil, tapi mereka cenderung hobi numpuk-numpukin pelajaran. Walhasil, kalau mau ulangan jadi kerepotan sendiri. Semua catatan, buku teks, numplek jadi satu di meja belajar. Wah, ngeliatnya aja udah pesimis duluan. Tapi, salah sendiri, kan? Saat seperti inilah Lulu baru merasa, betapa enaknya jadi si Lupus yang besok nggak ada ulangan, nggak ada pe-er matematik. Bisa ikutan begadang semalaman.

   Dan karena kelelahan, Lulu akhirnya tertidur di kursi panjang. Dia tak memikirkan lagi peer matematiknya yang baru dikerjain satu nomor. Matanya sudah begitu capek. Sepet banget.
•••

   Besok paginya Lulu terjaga. Sempat kaget juga. Tapi begitu melirik ke jam dinding, dia jadi lega. Baru jam enam pagi. Sementara banjir udah surut. Tapi lantainya jadi kotor sekali. Banyak tanah dan cacing-cacing. Ih. Kebayang deh, nanti siang bakalan repot membersihkan rumah. Tapi pagi ini Lulu harus sekolah dulu, soalnya ada ulangan kimia. Dan hatinya rada kecut ketika mengingat pelajaran pertama adalah matematik yang gurunya galak. Soalnya dia belum bikin peer. Mau bikin sekarang, mana keburu? Wah, pasti kena damprat habis-habisan. Guru itu memang benar-benar nggak kenal kompromi.

   Tapi Lulu pasrah. Memang salah sendiri kok.

   Dengan lesu dia memberesi buku-bukunya yang berserakan di meja. Dikumpulkannya jadi satu. Tapi begitu melihat buku matematiknya, dia sempat terkejut. Semua pe-ernya sudah selesai dikerjakan. Mukjizat apa pula ini? Lulu hampir tak percaya. Kembali meneliti hasil pekerjaan itu dengan yang di buku cetak. Semua sesuai. Malaikat mana yang telah berbaik hati menolongnya? Tapi sebentar saja dia sudah bisa menebak tulisan siapa yang ada di bukunya itu. Siapa lagi yang punya tulisan sejelek ini selain Lupus?

   Lulu langsung mencari Lupus ke kamarnya. Tapi nggak ada. Di kolong tempat tidur, di bawah taplak meja, di lemari baru, juga nggak ada. Akhirnya lewat jendela, dia bisa melihat Lupus yang masih asyik duduk di pagar depannya. Lulu langsung berlari ke sana.

   “Wah, makasih ya, Pus. Kamu ternyata baik juga!”

   Lupus menoleh.

   “Makasih apanya? Soal tebak-tebakan itu? Kalau kamu masih mau, saya punya satu tebaktebakan lagi. Makhluk apa yang ribut sekali kalau banjir, hobi berenang, berkaki panjang, kece, tapi bukan kodok!”

   Lulu berlagak mikir.

   “Apa ya? Nggak tau tuh?”

   “Saya!” sahut Lupus cepat sambil tertawa terkekeh-kekeh. Girang banget doi karena tebakannya nggak ketebak terus. Tapi Lulu nggak keki. Dia malah tertawa....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016