Sekilas

Senin, 08 Februari 2016

Permasalahan Saluran Distribusi Bibit Sapi Lokal dan Import dalam Penyediaan Kebutuhan Daging dalam Negeri



I
Pendahuluan
                                                                                                                      
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan dalam perkembangan perekonomian di Indonesia. Pentingnya pertanian dalam perekonomian nasional tidak hanya diukur dari kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB (pendapatan nasional), kesempatan kerja, sumber devisa negara, tetapi potensinya juga dilihat sebagai motor penggerak pertumbuhan output dan diversifikasi produksi di sektor ekonomi lain. Oleh karena itu, sektor pertanian dijadikan sebagai sektor pemimpin (leading sector) bagi sektor-sektor lainnya (Tambunan, 2003).
Sapi potong adalah salah satu ternak ruminansia sebagai penghasil daging di dunia khususnya Indonesia. Namun, produksi daging dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat  produktivitas ternak rendah. Rendahnya populasi sapi potong antara lain  disebabkan sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal terbatas (Suryana dalam Rosida, 2006). Sentra sapi potong tersebar  di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Naggroe Aceh Darussalam (NAD), Bali, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

II
Permasalahan

Kebijakan pemerintah mengenai swasembada daging tahun 2014 dalam sektor pertanian khususnya subsektor peternakan dinilai telah gagal. Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012 dapat diketahui bahwa jumlah produksi daging sapi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia. Jumlah produksi daging sapi dalam negeri terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 produksi sebesar 339,48 ribu ton, tahun 2008 meningkat menjadi 392,51 ribu ton, tahun 2009 meningkat menjadi 409,31 ribu ton dan tahun 2010 meningkat menjadi 436,45 ribu ton. Sedangkan jumlah konsumsi daging sapi pada tahun 2007 sebesar 1.529,30 ribu ton, tahun 2008 meningkat menjadi 1.643,09 ribu ton, tahun 2009 meningkat menjadi 1.732,64 ribu ton dan tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 1.671,33 ribu ton.
Meskipun jumlah produksi dalam negeri terus mengalami peningkatan, namun jumlah tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi. Pemerintah mengambil langkah kebijakan terkait dengan impor daging sapi dari luar negeri sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi dalam negeri. Kebijakan impor ini dilakukan agar pasokan daging sapi di dalam negeri dapat terjaga. Adanya permintaan terhadap daging sapi menuntut para produsen yang menawarkan daging untuk melakukan sebuah upaya. Bentuk upaya yang dilakukan adalah upaya untuk mengatur jumlah pasokan daging sapi agar terjadi kesesuaian antara jumlah permintaan konsumen dengan daging sapi yang ditawarkan salahsatunya ialah dengan melakukan penambahan impor sapi bakalan dari luar.

III
Metode Analisis

Analisis yang digunakan dalam mengkaji kasus ini digunakan acuan dengan mengumpulkan beberapa sumber data (data sekunder) yang diperoleh melalui berbagai dokumen dan jurnal, untuk mendapatkan data yang terperinci dan komprehensif mengenai kasus yang diteliti.
Selain pengumpulan data, analisis dilakukan dengan menelaah data dengan aspek teoritis yang melatarbelakanginya. Dimaksudkan, data yang diperoleh didukung oleh aspek teoritis yang membangun konsep dasar yang jelas dalam pengkajian kasus. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode deskriptif dan analitik.

IV
Pembahasan

Rantai pasokan atau supply chain merupakan suatu konsep dimana terdapat sistem pengaturan yang berkaitan dengan aliran produk, aliran informasi maupun aliran keuangan (finansial). Kegiatan rantai pasok bakalan masih terus dilakukan selama belum terpenuhinya jumlah permintaan konsumen pada daging sapi. Rantai pasokan bakalan sendiri harus memperhatikan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kelancaran proses distribusi. Karena selain untuk memenuhi permintaan konsumen, bentuk pengaturan dalam rantai pasokan bakalan juga bertujuan untuk menguntungkan mata rantai yang terlibat. Sehingga diperlukan sebuah pendekatan pada sistem rantai pasokan yang berupa pendekatan untuk mengetahui aliran produk, aliran keuangan, aliran informasi, karena hal tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan mata rantai yang ada. Ketergantungan akan penyediaan bakalan selain akan merugikan peternakan dalam negeri akan terjadi pula persaingan harga. Studi kasus ini bermanfaat untuk sistem rantai pasok bakalan atau aliran produk, dan aliran informasi pada rantai pasokan bakalan di Indonesia.

Aliran Produk
Aliran produk. Aliran produk merupakan aliran barang dari hulu (upstream) ke hilir (downstream). Produk dalam rantai pasokan ini berupa sapi hidup atau bakalan menjadi daging sapi segar sebagai produk utama dan hasil output lain sebagai side product yang siap untuk dijual. Sapi potong hidup di Indonesia merupakan sapi yang berasal dari peternakan rakyat ataupun hasil import. Pada pasar tradisional sapi dari peternak dibeli oleh pedagang sapi hidup dan akan dijual di pasar hewan yang selanjutnya selain dipotong ada beberapa yang akan melalui tahap penggemukan (Feedlot). Adanya pasar hewan sebagai tempat transaksi jual beli sapi potong akan menjadi pusat kegiatan perdagangan sapi potong, sehingga memudahkan peternak untuk mendapatkan sapi bakalan.

Aliran Keuangan
Aliran keuangan merupakan perpindahan uang yang mengalir dari hilir ke hulu. Aliran keuangan mengalir dari konsumen hingga ke peternak sapi potong hidup. Berdasarkan pola aliran dalam rantai pasokan sapi potong menunjukkan bahwa keuangan mengalir dari pedagang sapi hidup kepada peternak. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai dan akan terjadi transaksi apabila ada kesepakatan dan kesesuaian produk dengan harga yang ditawarkan oleh peternak. Pedagang secara langsung akan membeli sapi di tempat peternak yang ingin menjual sapi kemudian melakukan transaksi tersebut.
Aliran keuangan juga mengalir dari peternak ke pedagang sapi bakalan. Pembayaran terhadap pembelian sapi bakalan dapat dilakukan secara langsung di pasar hewan dimana sapi potong tersebut diperoleh ataupun secara tidak langsung dengan menggunakan telepon, surat elektronik. Pembelian sapi bisa dilakukan secara tunai maupun secara kredit. Perbedaan sistem pembelian ini dipengaruhi oleh kemampuan modal pembeli sapi, karena harga sapi saat ini relatif lebih mahal. Pembayaran tunai dilakukan apabila pembeli (peternak) membayarkan sejumlah uang secara langsung kepada pedagang sapi di pasar hewan. Sistem pembayaran pada pembelian sapi potong bisa dilakukan secara kredit sesuai dengan kesepakatan antara peternak dengan pedagang sapi.

Aliran Informasi
Aliran informasi merupakan aliran yang terjadi baik dari hulu ke hilir maupun sebaliknya dari hilir ke hulu. Informasi yang mengalir berkaitan dengan stok sapi bakalan, jumlah permintaan, harga sapi hidup, harga daging sapi maupun informasi terkait peraturan pemotongan. Aliran informasi yang ada mengalir secara vertikal maupun secara horizontal. Aliran mengalir secara vertikal artinya terdapat koordinasi pada mata rantai yang berbeda yaitu antara peternak, pedagang sapi, pengusaha daging (jagal), pihak RPH, pedagang pengecer dan konsumen. Sedangkan aliran secara horizontal artinya terdapat koordinasi pada sesama anggota mata rantai. Contoh adanya koordinasi secara horizontal yaitu adanya koordinasi antar pedagang sapi bakalan terkait dengan stok sapi yang ada di tingkat peternak. dan adanya koordinasi antar sesama pengusaha (peternak) terkait jumlah stok sapi yang dimiliki menjadi bentuk adanya koordinasi secara horizontal.

Aliran Distribusi
Kebutuhan daging di Indonesia sebagian besar (65%) masih dipenuhi dari produksi dalam negeri, dan sisanya diperoleh dari impor. Pemenuhan dari impor dapat berupa daging dan sapi bakalan. Pangsa produksi dalam negeri yang tinggi, ditambah dengan kegiatan redistribusi ternak dari ekspor-impor membutuhkan sarana transportasi yang memadai. Hal ini terkait dengan daerah sentra produksi yang tersebar pada beberapa daerah, sementara sentra konsumsi sebagian besar terdapat di Pulau Jawa.
Daerah sentra konsumsi diidentifikasi sebagai daerah defisit dalam kegiatan perdagangan ternak. Sentra konsumsi utama daging sapi di Indonesia adalah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Arah perdagangan sapi dipengaruhi harga jual di berbagai sentra produksi yang akan menentukan harga jual di sentra konsumsi Jakarta dan Jawa Barat serta harga sapi potong eks-impor dan daging impor di sentra konsumsi. Jalur utama untuk tujuan Jakarta dan Jawa Barat berasal dari Jawa Tengah/D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi.
Pasar yang semakin terbuka dan jika tidak ada upaya peningkatan efisiensi di sektor produksi dan sarana transportasi serta deregulasi peraturan pemerintah yang tidak kondusif, diduga produksi dalam negeri akan menghadapi desakan produk impor. Jika ini terjadi maka dapat menimbulkan perubahan arah perdagangan tersebut. Bahkan dapat terjadi pergerakan produk impor yang masuk melalui daerah sentra konsumsi menuju daerah yang semula merupakan daerah sentra produksi.
Peranan organisasi pasar (roles) dan aturan main (rule) menentukan seberapa banyak pelaku yang terlibat dan bagaimana proses transaksi terjadi. Dengan demikian walaupun komoditas yang diperdagangkan sama, organisasi pasar dapat saja berbeda (Tordjman, 1998). Hal ini terjadi pada pasar sapi potong di Indonesia. Faktor yang membedakan antara lain: keterlibatan makelar, cara bayar, penentuan berat badan yang akan menentukan nilai produk, besaran biaya jasa pasar hewan dan lain-lain. Guna memperkecil biaya pemasaran dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Secara internal dilakukan dengan mengefisienkan rantai tataniaga dan kemungkinan perubahan bentuk produk. Dari sisi eksternal adalah dengan menghilangkan pungutan liar, efisiensi jasa angkutan, dan deregulasi. Dalam kaitannya dengan deregulasi kelihatan ada hal yang kontradiktif. Di satu pihak secara nasional dan global mengarah pada liberalisasi dengan cara memperkecil tarif, di sisi lain pemerintah daerah cenderung melakukan peningkatan kegiatan pemungutan dalam berbagai bentuk.
Permasalahan  dalam rantai tataniaga atau jalur distribusi salahsatunya ialah terjadi di provinsi NTT yakni sebagai daerah yang menempati urutan empat populasi sapi potong terbesar di Indonesia. Perkembangan populasi ternak di NTT diprediksi akan terus meningkat setiap tahun, dengan penambahan populasi terbanyak terdapat pada jenis ternak sapi. Pada tahun 2012, jumlah populasi ternak sapi sebanyak 814.450 ekor, sedangkan pada Januari 2013 meningkat menjadi 817.708 ekor. Angka itu diprediksi akan terus meningkat seiring dengan sejumlah langkah konkret di lapangan dalam pengembangan peternakan di NTT.  Di sisi lain kebutuhan pasokan daging sapi untuk keperluan konsumsi masyarakat di NTT  relatif rendah, karena jumlah penduduknya memang jauh lebih sedikit dibandingkan pulau Jawa.  Kelebihan potensi populasi sapi potong yang cukup besar tersebut sulit untuk disalurkan ke pulau Jawa,  yang masih membutuhkan tambahan pasokan cukup besar, akibat kendala logistik yang berpengaruh pada harga jual yang tinggi saat tiba di tangan konsumen. Secara ekonomis, akan lebih murah mengimpor daging sapi atau bakalan sapi dari Australia dibandingkan mendatangkannya dari NTT. Biaya logistik yang tinggi  menyebabkan daya saing produk Indonesia, termasuk daging sapi, menjadi lebih rendah dibandingkan dengan produk sejenis yang dihasilkan negara-negara pesaing.
Pasokan daging sapi dari daerah produsen menuju daerah konsumen menjadi tersendat sebagai akibat dari kendala logistik, khususnya sistem transportasi angkutan ternak yang masih belum memadai. Seperti sampai saat ini, pengangkutan ternak dari NTT masih menggunakan truk atau kapal barang biasa yang berbarengan dengan penumpang. Kondisi ini sangat berbeda dengan Australia, negara pemasok utama sapi hidup ke Indonesia, yang menyediakan angkutan khusus untuk ternak. Memperhatikan kondisi tersebut, tampaknya agar permasalahan daging sapi dapat segera dipecahkan maka salah satu upaya yang perlu dan mendesak dilakukan adalah pembenahan terhadap sistem logistik nasional. Upaya ini diharapkan akan berdampak langsung terhadap perbaikan distribusi daging sapi nasional, sehingga penyaluran komoditas daging sapi antar daerah di Indonesia dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Berkenaan dengan permasalahan tersebut, pemerintah dengan para pemangku kepentingan tengah berupaya untuk mengatasi permasalahan distribusi dan logistik daging sapi untuk menurunkan harga dan mendorong peningkatan konsumsi daging sapi.  Pemerintah terus berperan aktif dalam mengembangkan sistem logistik nasional. Upaya ini bertujuan untuk memperlancar konektivitas antar daerah dan antar rantai logistik yang dilakukan melalui revitalisasi pasar tradisional, pembangunan pusat distribusi regional.

V
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Rantai pasokan daging sapi di Indonesia memiliki 3 aliran yaitu aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi. Aliran produk berupa bakalan mengalir dari peternak hingga ke konsumen akhir (peternak). Aliran keuangan mengalir dari konsumen akhir peternak sapi ke pedagang atau penyedia bakalan, sedangkan aliran informasi mengalir dua arah dari peternak ke pedagang namun belum  optimal
Arah perdagangan sapi potong yang utama masih tetap pada kedua lokasi yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat. Namun perbedaan harga dan perkembangan konsumsi yang semakin meningkat, sementara kemampuan produksi dalam negeri relatif stagnan sehingga terpaksa harus melakukan impor sapi bakalan, yang telah menciptakan jalur-jalur perdagangan baru. Arah jalur baru tersebut yaitu dari Lampung ke Sumatra Barat ke Riau dan ke Sumatra Utara dan dari Sulawesi Tenggara ke Sulawesi Selatan dan dilanjutkan ke Kalimantan.

Saran
Pemerintah sebaiknya dijadikan sebagai pusat tata kelola rantai pasokan daging dengan meningkatkan perannya dalam kegiatan pengawasan terhadap proses jual beli sapi potong  (bakalan) hidup di pasar hewan, penjulalan sapi yang dilakukan sesuai prosedur dan pengawasan peredaran daging sapi baik secara kuantitas maupun kualitas. Pemerintahpun seharusnya memberikan pengawasan prosedur kebijakan mengenai impor untuk menyelamatkan peternak dalam negeri.


Daftar Pustaka

Emhar A., dkk.2014. Analisis rantai pasokan (supply chain) daging sapi di kabupaten Jember. Universitas Jember. Jember.
Rosida, I. 2006. Analisis potensi Sumber daya peternakan kabupaten tasikmalaya sebagai wilayah pembangunan Sapi potong. Skripsi. Fakultas petrnakan intitiut pertanian, Bogor.
Tambunan TTH. 2003. Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia:Beberapa Isu Penting. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Tordjman, 1998. Some General Questions About Markets. International Institute for Applied Systems Analysis. Luxemburg. Austria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016