Sekilas

Selasa, 16 Juli 2013

Latar Belakang Pembentukan Masyarakat Feodal di Jepang

 

Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan dimana seorang pemimpin yang biasanya dari kaum bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan, tetapi lebih rendah yang disebut vazal. Sefiap vazal wajib membayar upeti ke pemimpinnya. Dan pola hubungan seperti ini tidak berhenti hanya dua tingkat saja, tetapi setiap vazal juga menjadi pemimpin bagi vazal – vazal yang lain.

Sejak pemerintahan militer berdiri di Jepang, yaitu pada masa Kamakura, babak baru sejarah Jepang yang disebut zaman feodalisme dimulai. Karakteristik terpenting dalam sistem politik pada zaman itu adalah adanya dikotomi kekuasaan yaitu pemerintahan sipil dan agama yang berpusat di istana tennou di Kyouto yang yang mempunyai kekuasaan sangat kecil dan pemerintahan militer, yang saat itu dibentuk oleh Yoritomo di Kamakura. Sistem politik ini terus dijalankan hampir selama 700 tahun sampai pada masa kekuasaan Tokugawa.

Dalam kurun waktu 700 tahun, sampai akhir abad ke 16 ini feodalisme berkembang secara alami di Jepang, dan semakin berkembang dari satu wilayah ke wilayah lain.Antara tempat satu dan yang lain hanya ada perbedaan rincian dan perbedaan pemakaian istilah saja. Maka dari itu, saat itu pemerintah mengambil kebijakan untuk menstaratifikasi masyarakat secara jelas dan tegas. Selain ditujukan untuk menertibkan dan mnyeragamkan tatanan sosial, kebijakan ini juga ditujukan sebagai antisipasai terhadap gekokujo yang sering muncul pada masa lalu. Gekokujo adalah penumbangan kekuasaan penguasa yang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah.

Pembagian Kelas Masyarakat pada Zaman Edo.

Susunan kelas masyarakat pada zaman Edo terdiri dari kuge, buke, samurai, kaum petani (hyakushou) dan orang kota (chounin). Kaum petani dan orang kota dimasukkan dalam satu kelompok besar yang disebut heimin yang secara harfiah memiliki arti rakyat biasa. Ada orang – orang yang tidak termasuk ke dalam salah satu golongan, mereka disebut eta. Berikut adalah penjelasan rinci pembagian kelas masyarakat zaman Edo :

  • Kuge adalah kelas masyarakat yang paling tinggi. Kelas ini terdiri para keturunan bangsawan. Tennou dan para bangsawan – bangsawan di istana masuk dalam kelas masyarakat ini. Dalam masyarakat mereka sangat dihormati karena statusnya sebagai keturunan bangsawan, tetapi di sisi lain kelas ini juga dipandang sebelah mata karena tidak mempunyai pengaruh strategis dalam kehidupan politik dan ekonomi Jepang.
  • Buke, terdiri dari para Shogun, Daimyou dan keluarga – keluarganya. Kelas kedua setelah kuge. Pada saat itu berjumlah sekitar 270 orang. Walaupun merupakan kelas kedua, kelas sosial ini sangat diperhitungkan karena selama pemerintahan bakufu, kelas inilah yang memegang keuasaan strategis. Merekalah penentu kebijakan – kebijakan dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat.
  • Samurai, adalah prajurit yang menjadi pengikut setia para daimyou dan shogun yang berjumlah sekitar dua juta orang. Selain melakukan pekerjaan militer, para samurai juga melakukan pekerjaan administrasi dalam pemerintahan shogun dan daimyo. Sebagai tanda kesamuraiannya mereka selalu mengenakan dua bilah pedang.
  • Petani (hyakushou), secara teoritis merupakan kelas yang berada langsung di bawah samurai dan diatas chounin. Kelas ini pada prakteknya adalah kelas yang paling tertindas. Kelas ini harus menjamin hidup golongan kuge, buke dan samurai. Petani pada zaman edo juga tidak memiliki tanah pertanian sendiri. Mereka hanya menggarap tanah dari tuan tanah, mereka juga harus melaporkan hasil panennya secara berkala kepada para pemilik tanah.
  • Chounin, kelas yang terdiri dari para pengrajin dan pedagang. Pada masa Edo, saat kondisi politik relatif stabil, perdagangan Jepang menjadi sangat maju, kelas pengrajin dan pedagang inilah yang menjadi kelas pertengahan dengan kehidupan paling makmur. Ekonomi uang yang menggantukan barter, menjadikan kelas pedagang semakin mendominasi. Pada saat itu banyak pula para pedagang yang diangkat menjadi samurai, karena adopsi atau pernikahan antar kelas pedagang dan samurai. Pernikahan seperti ini sebagian dilatarbelakangi oleh permasalahan hutang. Hutang yang para samurai kepada para saudagar yang dibayar dengan pernikahan dan pengangkatan kelas. Walaupun sebenarnya hal ini melanggar kebiasaan.
  • Eta, adalah kelas masyarakat yang tidak termasuk dalam kelas – kelas yang telah ditetapkan. Kelas ini terdiri dari para penjagal, penggali kubur, penyamak kulit, dan lain – lain. Dalam tatanan masyarakat orang – orang yang masuk dalam kelas masyarakat eta benar – benar termarginalkan. Bahkan beberapa samurai dan daimyo akan merasa tercemar jika mereka memasuki perkampungan yang banyak dihuni oleh orang – orang eta.

Sistem Masyarakat Feodal : Usaha Bakufu untuk Melemahkan Peran Tennou

Awal munculnya Feodalisme di Jepang ditandai dengan pembagian kekuasaan antara Tennou yang hanya memegang kekuasaan simbolik semata dan kekuasaan Shogun yang memegang keuasaan praktis. Selama hampir 700 tahun feodalisme di Jepang berkembang sampai ke ranah masyarakat yaitu pembentukan strata masyarakat yang sangat tegas dan kaku.

Alasan populer pemerintah Jepang menerapkan pembagian kelas masyarakat dari mulai kelas yang paling suci sampai kelas yang paling bawah, salah satunya adalah antisipasi pemberontakan kelas bawah. Namun, pemantapan posisi bakufu dan pengkerdilan kekuasaan kaisar juga mungkin bisa dijadikan alasan. Fakta – fakta menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin terjadi. Tennou dan bangsawan – bangsawan kaisar yang digaji oleh bakufu, Tennou yang hanya boleh setahun sekali mengunjungi rakyatnya, sampai pengangkatan pejabat kaisar yang harus dengan persetujuan bakufu adalah bukti nyata bahwa bakufu berusaha mendominasi pada saat itu.

Kelas – kelas sosial pada masa Edo juga membuat masyarakat terkotak – kotak. Hal ini secara tidak langsung juga akan menjauhkan masyarakat dari kaisar. Masyarakat yang berada di kelas bawah telah terdoktrin bahwa dirinya tidak pantas menemui kaisar, dan kaisar yang berada di kelas paling atas mungkin juga akan merasa tercemar jika menemui rakyatnya. Hal ini secara alami akan mengurangi peran kaisar dalam proses kehidupan sosial masyarakat dan penentuan kebijakan. Bisa dikatakan pada saat itu, memang benar bahwa kaisar tidak dapat diganggu gugat tetapi, pada saat itu pula kaisar hampir seperti tidak punya keuasaan.

Dalam kondisi masyarakat yang terkotak – kotak seperti itu pula pemerintah dalam hal ini bakufu lebih leluasa melakukan apa saja kepada rakyatnya. Kasus yang terjadi pada saat itu orang – orang dari kelas samurai dapat membunuh seseorang yang kelasnya lebih rendah, walaupun hanya karena alasa sepele.

Kondisi pemerintahan dan masyarakat yang bisa dikatakan tidak sehat ini akhirnya menemui keruntuhannya. Tidak adanya perang membuat raison d’etre para samurai mulai dipertanyakan. Samurai – samurai yang saat itu menganggur mulai banyak yang terlilit hutang. Hal ini secara tidak langsung merusak respect masyarakat kepada kaum samurai. Selain masalah tersebut juga terjadi pemberontakan yang justru tidak muncul dari rakyat jelata, tetapi dilakukan oleh kaum samurai sendiri. Konflik horisontal yang terjadi di kalangan samurai ini semakin membuat situasi kacau dan melemahkan bakufu.

Akhirnya kekacauan – kekacauan yang terjadi tersebut membawa bakufu ke titik kulminasi.Yaitu ketika kaisar sebagai kepala negara sudah tidak percaya lagi kepada bakufu dan meminta keuasaan pemerintahan kembali diampu oleh istana.

Referensi
1.Beasley, W. G. 2003. Pengalaman Jepang : Sejarah Singkat Jepang. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
2.Bleed, Peter. Dkk. 1996. Japanese History : 11 Experts Reflect on The Past. Tokyo : Kodansha
3.Dasuki, A. Sedjarah Djepang. Bandung : Balai Pendidikan Guru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016