Sekilas

Senin, 24 Juni 2013

Pemanfaatan Daun Ketapang sebagai Media Penurun pH Air Sisa Cucian

Pemanfaatan Daun Ketapang sebagai Media Penurun pH Air Sisa Cucian

Galih Agung Gunawan

200110120123

Fapet III

Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran

 

ABSTRAK

Lingkungan kampus UNPAD Jatinangor yang merupakan daerah perbukitan dan terletak di kaki gunung serta didukung dengan tanaman dan tekstur tanah yang subur untuk ditanami pepohonan membuat kawasan kampus Jatinangor menjadi lebih rindang dan mengurangi panasnya kawasan Jatinangor.Bahkan dengan wilayah yang mendukung kampus Jatinangorpun mempunyai pusat perlindungan dan konservasi yaitu Arboretum yang lumayan luas yang berguna melestarikan tanaman tanaman yang ada di wilayah parahyangan.

Setelah mengamati jenis flora yang ada di kawasan Jatinangor.Ada salah satu tanaman yang menarik lagi untuk ditelaah lebih lanjut yaitu tanaman pohon Ketapang (Termanilia Catappa) yang mempunyai karakteristik berdaun lebar dan biji yang cukup keras dan mirip kacang almond.Dengan banyaknya populasi tanaman ini di kawasan Kampus UNPAD terkadang kita dapat melihat biji-bijinya berserakan di jalanan atau lingkungan kampus karena pohon ini hampir bisa ditemukan di setiap fakultas yang bahkan jika dihitung fakultas yang ada di UNPAD cukup banyak yaitu sekitar 14 fakultas di kawasan Jatinangor serta fasilitas-fasilitas pendukung kegiatan kemahasiswaan lainnya.

Terkadang timbul pertanyaan mengapa biji atau tanaman ini tidak dimanfaatkan dengan baik atau bahkan dapat menjadi suatu nilai jual karena kita sering melihat para petugas kebersihan yang memang cukup banyak jumlahnya membersihkan biji-biji yang berserakan di jalanan yang sebenarnya menjadi tidak ada nilainya hanya menjadi sampah yang selanjutnya dibakar atau dibuang.Banyaknya petugas kebersihan yang bisa dikatakan hanya untuk membersihkan biji atau daun-daun ketapang ini menjadi kurang efisien dalam kerja dan nilai financial yang harus dikeluarkan pihak kampus untuk menjaga lingkungannya.Sebenarnya berapa banyak tenaga dan nilai materi yang harus dikeluarkan hanya untuk memberihkan biji-biji yang berserakan dibandingkan dengan mengolah biji-biji tadi menjadi nilai konsumsi yang berguna bahkan dapat dikembangkan yang dapat menjadi sebuah pengabdian pada masyarakat yang dapat dikembangkan lebih lanjut mengingat budidaya pohon yang lebih mudah dan tidak menimbulkan sampah yang cukup banyak dan mengotori lingkungan.

Dari hasil yang ditemukan lewat internet ternyata cukup banyak tesis bahkan website yang membahas tentang kegunaan dan kelebihan pohon ketapang ini yang mempunyai banyak kegunaan dan manfaat yang dapat dihasilkan dari pohon ketapang atau (Terminalia Catappa) bahkan dalam budidayanya yang cukup mundah sehingga kita tidak takut akan langkanya objek atau bahan penelitian karena banyaknya populasi pohon ini yang hampir dapat ditemukan di setiap lingkungan fakultas.

Namun di lingkungan UNPAD sendiri masih kurangnya peran mahasiswa dalam melihat fenomena yang ada terhadap lingkungan sekitar ini.Pembuatan makalah ini diharapkan mampu menggugah sikap kritis dan ilmiah mahasiswa terhadap fenomena yang ada dan mampu menerapkannya dalam suatu metoda ilmiah untuk pengkajian sehingga mampu menghasilkan suatu produk dan terciptanya efektifitas serta efisiensi.

Kata kunci : Daun ketapang, Air cucian, PH air, limbah air cucian, pemanfaatan limbah, mengurangi energi SDM, produk ramah lingkungan

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zaman modern sekarang ini, masyarakat telah banyak menggunakan jasa laundry. Usaha laundry merupakan kegiatan usaha jasa yang banyak menghasilkan limbah cair. Pembuangan limbah yang berasal dari kegiatan usaha laundry masih dibuang ke lingkungan tanpa ada pengolahan. Limbah laundry mengandung senyawa aktif metilen biru (surfaktan) yang sulit terdegradasi dan berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Diperlukan suatu upaya pengolahan limbah yang berasal dari kegiatan laundry untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

Kegiatan usaha laundry menghasilkan suatu limbah yang berupa cairan, sisa air cucian yang bersifat basa. Kebanyakan limbah cair ini dibuang ke badan air seperti sungai. Hal ini bisa menyebabkan badan air menjadi tercemar atau bersifat basa. Salah satu upaya sederhana untuk pengurangan pencemaran yaitu dengan menurunkan pH sisa air cucian terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air. Penurunan pH, dapat dilakukan dengan cara merendamkan daun ketapang kedalam air sisa cucian tersebut.

Ketapang dalam bahasa ilmiah adalah terminalia catappa, atau sering disebut dengan kenari tropis. Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman peneduh karena daunnya yang membentuk seperti payung. Setiap harinya selalu ada daun kering yang berguguran dan menjadi sampah karena tidak digunakan. Pohon ketapang menghasilkan racun pada daunnya yang berguna untuk melindungi dari gangguan serangga dan parasit. Oleh karena itu kita tidak akan menemukan pohon ketapang diserang oleh hama. Daun yang kering ketika terendam air akan menghasilkan air yang berwarna kuning kecoklatan. Air tersebut mengandung asam organik seperti humic dan tannin.

Sifat-sifat basa yaitu mempunyai rasa pahit dan merusak kulit, terasa licin seperti sabun bila terkena kulit, dapat mengubah kertas lakmus merah menjadi kertas lakmus biru, dapat menetralkan asam.

Alat untuk mengukur skala keasaman atau pH adalah pH meter dan indikator universal. Skala pH nya adalah antara 0-14. Tingkatan keasaman yaitu,apabila nilainya 0-6,9 maka disebut asam. Apabila nilainya 7 adalah netra. Dan jika lebih dari 7, yaitu 7,1-14 disebut basa.

1.2 Rumusan masalah

Masalah yang ditemukan di wilayah kawasan Kampus Jatinangor terutama dalam masalah pengelolaan limbah yang kurang sadar dalam dampak yang ditimbulkan untuk masa yang akan dating, dalam hal ini pencemaran limbah di air sangat, berikut merupakan masalah yang diamati :

· Pencemaran limbah rumah tangga / air bekas cucian yang limbahnya langsung dibuang pada saluran air

· Banyaknya usaha jasa pencucian, terutama di kawasan yang didominasi oleh mahasiswa berupa kost-kostan.

· Kurang sadarnya masyarakat akan dampak yang ditimbulkan untuk masa yang akan datang

· Saluran air yang kotor dan tidak terawat

· Air selokan yang kotor sehingga menyebakan warna hitam dan bau

· Banyaknya pohon ketapang yang kurang dimanfaatkan di wilayah sekitar kampus

· Terbuangnya energi dari SDM yang dibutuhkan hanya untuk membersihkan sampah

1.3 Identifikasi masalah

Dengan melihat beberapa fenomena yang terjadi saat ini, sebagai mahasiswa dituntu dapat mengkaji dan menelaah sehingga dapat membuat suatu penyelesaian dalam masalah yang ada, berikut beberapa yang dapat diindentifikas, yaitu :

· Mahasiswa mampu berpikir kritis, intelektual, dan objektif sesuai dengan fakta dan fenomena yang ada

· Dapat membuat suatu penyelesaian mengenai pengelolaan limbah air cucian yang ramah lingkungan

· Pohon ketapang yang mengandung asam organik dapat dimanfaatkan untuk menurunkan kadar basa pada air

· Mengurangi energi SDM yang terbuang dengan pemanfaatan limbah pohon ketapang

· Menghasilkan siklus pengelolaan limbah secara berkelanjutan.

1.4 Tujuan dan manfaat

Ada beberapa tujuan dan pemanfaatan yang selanjutnya ingin dicapai setelah dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut,yaitu :

· Dapat menghasilkan bahan alternative sebagai penurun pH air sisa cucian.

· Memanfaatkan daun ketapang yang banyak terdapat di sekitar kita untuk menurunkan pH air sisa cucian secara alami.

· Membuat air sisa cucian menjadi lebih aman untuk dibuang ke lingkungan.

· Dalam skala besar dapat diterapkan pada industri jasa pencucian.

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pohon Ketapang

Ketapang atau katapang (Terminalia catappa) adalah nama sejenis pohon tepi pantai yang rindang. Lekas tumbuh dan membentuk tajuk indah bertingkat-tingkat, ketapang kerap dijadikan pohon peneduh di taman-taman dan tepi jalan.

a. Taksonomi

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magniliopsida

Ordo : Myrtales

Famili : Combretaceae

Genus : Terminalia

Species : Terminalia catappa

b. Persebaran

Ketapang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara dan umum ditemukan di wilayah ini, kecuali di Sumatera dan Kalimantan yang agak jarang didapati di alam. Pohon ini biasa ditanam di Australia bagian utara dan Polinesia, demikian pula di India, Pakistan, Madagaskar, Afrika Timur dan Afrika Barat, Amerika Tengah, serta Amerika Selatan.

c. Habitat

Pohon ini cocok dengan iklim pesisir dan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 400 m dpl. Curah hujan antara 1.000 – 3.500 mm/tahun, dan bulan kering hingga 6 bulan.Ketapang menggugurkan daun hingga dua kali setahun, sehingga tumbuhan ini bisa tahan menghadapi bulan-bulan yang kering. Buahnya yang memiliki lapisan gabus dapat terapung-apung di air sungai dan laut hingga berbilan-bulan, sebelum tumbuh di tempat yang cocok.

d. Kegunaan

Kulit kayu dan daun-daunnya dimanfaatkan orang untuk menyamak kulit, sebagai bahan pewarna hitam, dan juga untuk membuat tinta. Kulit kayunya menghasilkan zat pewarna kuning kecoklatan sampai warna zaitun, dan mengandung 11 – 23% tanin, sementara daundaunnya mengandung12 macam tanin yang dapat dihidrolisis. Penggemar ikan hias menaruh daun-daun ketapang kering di akuarium, khususnya ikan cupang (Betta spp), untuk memperbaiki kesehatan dan memperpanjang umur ikan.

Kayu terasnya merah bata pucat hingga kecoklat-coklatan, ringan sampai sedang, BJnya

berkisar antara 0,465 – 0,675, cukup keras dan ulet, namun tidak begitu awet. Kayu ini

dalam perdagangan dikenal sebagai red-brown terminalia, dan digunakan sebagai penutup lantai atau venir. Di Indonesia, kayu ini digunakan dalam pembuatan perahu dan juga untuk bahan rumah.

Biji Ketapang dapat dimakan mentah atau dimasak, konon lebih enak dari biji kenari, dan digunakan sebagai pengganti biji amandel (almond) dalam kue-kue. Inti bijinya yang kering jemur menghasilkan minyak berwarna kuning hingga setengah dari bobot semula. Minyak ini mengandung asam-asam lemak seperti asam palmiat (55,5%). Asam oleat (23,3%), asam linoleat, asam stearat dan asam miristat. Biji kering ini juga mengandung protein (25%), gula (16%), serta berbagai macam asam amino.

e. Budidaya

Spesies ini mudah diperbanyak dengan biji. Perbanyakan vegetatif dengan stek akar juga bisa dilakukan. Waktu pematangan buah bervariasi antar wilayah dan dapat sporadis atau terjadi lebih dari sekali per tahun. Buah siap untuk koleksi ketika ukurannya maksimal dan telah mulai menunjukkan beberapa perubahan warna yaitu menjadi red purple atau kuning atau kecoklatan.

Banyaknya buah sekitar 15 – 60 buah/kg. Daging luar harus dikupas dari biji sesegera

mungkin setelah dipanen (dalam 1 – 2 hari). Biji tanpa daging luas sebanyak 70 – 150 buah/kg.

Perilaku penyimpanan biji tidak diketahui, tetapi biji kehilangan viabilitas cukup cepat dalam penyimpanan. Benih dianjurkan daitanam dalam waktu 4 – 6 minggu penyimpanan.Benih yang berkecambah dilindungi di bawah naungan. Bibit harus dipindahkan ke dalam wadah secepat mungkin setelah munculnya perkecambahan. Bibit yang semakin besar dipindah ketingkat pencahayaan yang lebih tinggi misalnya intensitas cahaya 30 – 50% selama 1– 2 minggu setelah tanam, kemudian 25% selama 1 bulan, kemudian matahari penuh selama 2 bulan sebelum penanaman.

Bibit harus ditanam pada awal musim hujan. Urutan koleksi benih untuk produksi bibit;Juli – Agustus, perkecambahan; bulan September – November, tahap penaburan benih;Desember – Januari, tanam di lapangan. Saat ditanam, tinggi tanaman harus sekitar 25 cm – 30cm.

2.2 Metode Penelitian

Pada percobaan mengenai penurunan pH air sisa cucian dengan alternatif bahan baku daun ketapang kering ini dilakukan dengan cara sederhana. Teknologi daun ketapang kering ini telah lama digunakan dalam penurunan pH air karena dapat menurunkan pH air pada akuarium. Pada percobaan ini akan membahas mengenai proses penurunan pH air sisa cucian dengan menggunakan daun ketapang kering.

Percobaan ini berlangsung selama 6 hari, dikarenakan proses dilakukan mulai dari mengeringkan daun ketapang hingga daun ketapang siap untuk digunakan. Proses perendaman berlangsung selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan pengukuran pH.

a. Objek Percobaan

Sebagai objek percobaan ini adalah daun ketapang kering dan daun ketapang segar sebagai bahan baku penurun pH dan perbandingan mengenai variable yang lebih cepat menurunkan pH.

b. Bahan dan Alat Percobaan

Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

· daun ketapang kering

· air sisa cucian.

Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

· Ember/wadah

· Gelas ukur

· Kertas pH

c. Prosedur Kerja

1. Memilih daun ketapang yang baik.

2. Membersihkan daun ketapang dari kotoran-kotoran yang menempel pada daun.

3. Mengeringkan daun ketapang di bawah sinar matahari agar daun lebih kering lagi.

4. Menyiapkan air sisa cucian sabun di dalam wadah atau ember.

5. Mengukur pH awal air sisa cucian sabun dengan menggunakan kertas lakmus.

6. Menghitung pH awal air sisa cucian sabun.

7. Merendam daun ketapang yang sudah kering kedalam air sisa cucian sabun.

8. Mengukur pH rendaman daun ketapang pada air sabun setiap 1x24 jam selama 3 hari.

d. Rencana Anggaran Biaya

Anggaran biaya untuk penurunan pH air sisa cucian menggunakan daun ketapang kering adalah sebesar Rp 10.000,- dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 1 Anggaran biaya pembuatan alat

No.

Nama barang

Harga satuan

Jumlah

Total

1.

Air sisa cucian

-

250 ml

 

2.

Daun ketapang

-

5 lembar

 

3.

Kertas pH

10.000/pack

5 lembar

 
         
 

Total

   

10.000

e. Hasil Pengujian

Dari hasil pengujian yang telah kami lakukan dihasilkan data sebagai berikut:

Tabel 2. Pengukuran pH dari hari pertama hingga ketiga

PH air percobaan

Pengukuran PH air per/hari

Hari ke-1

Hari ke-2

Hari ke-3

Daun Segar

9

9

9

Daun Kering

9

8

8

Air sisa cucian yang mempunyai pH awal 9 setelah direndam dengan daun ketapang selama 3 hari mengalami penurunan pH, yaitu menjadi 8. Pada air bekas rendaman daun ketapang berwarna coklat gelap dan keruh oleh serat daun ketapang. Karena warna coklat tersebut diakibatkan oleh asam tannin pada kandungan daun ketapang kering sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.

III

PEMBAHASAN

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan maka dapat didapatkan bahwa diperlukannya penelitian lebih lanjut dan penelitian dengan berbagai variable untuk mendapatkan variasi data. Pemakaian daun ketapang yang segar (masih hijau) dan daun ketapang yang sudah kering dilakukan untuk mengetahui daun mana yang memiliki kemampuan terbesar dalam menurunkan pH. Daun ketapang diketahui memiliki kandungan asam organic humic dan tannin. Namun diperlukan penelitian yang lebih mendalam mengenai asam organic terbesar berada di daun yang mana.

Penggunaan daun ketapang yang berupa lembaran ( utuh ) maupun penggunaan daun ketapang yang dihancurkan ( serbuk ) sepertinya memiliki kegunaan yang sama, hanya saja terletak pada efisiensi penggunaannya. Bentuk serbuk sepertinya lebih mudah digunakan dibandingkan dengan daun yang berbentuk lembaran. Bentuk serbuk memiliki keunggulan tersendiri misalnya dalam hal pengembangannya yakni lebih mudah untuk dibawa ataupun dalam hal penyimpanannya dalam skala besar.

Waktu perendaman yang dilakukan ketika penelitian termasuk singkat yakni 2-3 hari. Perlunya dilakukan perendaman yang lebih lama untuk mengetahui penurunan pH secara signifikan. Ketika penelitian dengan waktu 2-3 hari hanya menghasilkan penurunan pH dari 9 menjadi 8. Perendaman yang lebih lama kemungkinan akan menghasilkan penurunan pH lebih dari 1.

Ketika pengukuran pH perlu dilakukan pengadukan agar tercampur antara ekstrak daun ketapang dan air limbah. Ketika penelitian tidak dilakukan pengadukan pada saat pengukuran pH. Kandungan asam organic yang dapat menurunkan pH terletak di dasar rendaman maka untuk itu diperlukan pengadukan agar hasil yang didapat bias semaksimal mungkin.

Penggunaan daun ketapang pada air cucian mengakibatkan air cucian menjadi keruh sehingga masih sulit untuk pemakaian kembali air yang telah digunakan sedangkan pada daun ketapang segar air masih bisa dikatakan berwarna jernih daun dalam penurunan pH nya pada daun ketapang segar masih cenderung dikatakan lambat.

IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini antara lain:

  • · Daun ketapang mengandung asam organik seperti humic dan tannin yang dapat menurunkan pH air.
  • · pH air sisa cucian yang pH awal 9 setelah direndam 1 x 24 jam turun menjadi 8.
  • · Teknologi sederhana ini dapat diterapkan di industri laundry yang banyak menghasilkan limbah detergen sehingga lebih aman untuk dibuang ke lingkungan.

Saran

  • · Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap penurunan pH dengan pemanfaatan daun ketapang kering dan variable yang lebih banyak.
  • · Pengukuran dapat dilakukan dengan pH meter agar nilai penurunan keasamannya lebih jelas terlihat dan tepat.
  • · Dapat mendaur ulang atau memanfaatkan air hasil penurunan basa dari air cucian
  • · Menghasilkan suatu produk yang ramah lingkungan dan dapat digunakan dalam penurun pH air terutama untuk industri jasa pencucian baju.
  • · Mahasiswa mampu lebih berpikir kritis lagi dan inovatif dalam melihat potensi lingkungan sekitar dengan banyak diberi kesempatan.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Perhutani, KPH Kendal. (2011).Jenis Tanaman Rimba Eksotik.Kendal

Direktorat Perumahan, Ditjen Cipta Karya-Departemen Pekerjaan Umum. (1998) Pengelolaan Limbah Air.Jakarta

Atmadjaja, J. dan Sitanggang, M. (2008).Panduan Lengkap Budi daya & Perawatan Cupang Hias, hal 125-126, Jakarta, Agromedia.

Lily M, Perry. (1980).Medicinal Plants of East and Southeast Asia, Inggris : The MIT.

Pemanfaatan Tanaman tradisional.2003. (http://www.traditionaltree.org)

Forum Ikan Hias.2007.(http://forum.o-fish.com).

Forum pembuatan black water.(http://www.n1wanred.com/isi/forum/showthread.php).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016