Sekilas

Jumat, 14 Juni 2013

Aspek Permasalahan Peternakan



A. Pengetahuan Umum Peternak
Bertitiktolak dari sejarah perkembangan perekonomian bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sampai dengan penjajahan daerah nusantara oleh bangsa Belanda awal abad ke 20, seluruh jenis ternak lokal yang diusahakan oleh masyarakat adalah peternakan bermotif subsistens. Ternak hanya dipelihara beberapa ekor saja yang tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau untuk mengisi waktu luang, kecuali ternak kerbau di daerah Sulawesi yang dipelihara secara extensif dilepas di rawa rawa. Pengetahuan beternak masyarakat diperoleh secara turun temurun atau secara tradisional.
Tiga prinsip besar “breeding, feeding, management” dalam beternak tidak dikuasai dan apalagi dilaksanakan.
Ketika bangsa Belanda menguasai daerah Nusantara barulah ada usaha usaha untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong, domba dan kambing lokal dengan cara kawin silang antara ternak lokal dengan ternak unggul yang didatangkan dari eropa. Dilain fihak, khusus ternak sapi perah dikembangkan dengan skala usaha besar besaran atau secara komersial oleh para pengusaha Belanda atau asing eropa lainnya. Tujuan utama dari usaha peternakan sapi perah ini adalah untuk memenuhi kebutuhan susu segar dan produk olahannya bagi bangsa asing yang bekerja di daerah Nusantara. Pekerjaan orang asing pada waktu itu adalah sebagai pengusaha dalam bidang perkebunan teh, kopi, kina, pedagang rempah rempah dan pegawai administrasi dan militer pada pemerintah Belanda. Pada saat ini usaha peternakan di Indonesia sudah banyak yang bermotif semi komersial bahkan yang komersial, namun mayoritas peternak yang diperkirakan sekitar 90 persen masih berusaha secara subsistens. Usaha peternakan subsistens identik dengan usaha yang sarat dengan masalah.

B. Posisi Tawar Peternak
Usaha peternakan rakyat yang bermotif subsistens dengan skala kecil posisi tawarnya sangat rendah. Dalam penjualan produk, mereka bersifat pasif dan yang aktif adalah para pedagang. Para peternak akan menjual ternaknya ketika ada kebutuhan yang mendesak, artinya tidak menjualnya pada waktu yang tepat. Ketika ada kebutuhan yang mendesak, maka posisi tawar dia sangat lemah, harga berapapun yang ditentukan pedagang dia harus mau menerimanya. Ketika ada kebutuhan yang mendesak dan ternaknya masih kecil, dia akan meminjam uang kepada pedagang dengan perjanjian nanti harus menjual ternaknya pada pedagang yang bersangkutan.

C. Sifat Produk Peternakan
Produk peternakan dapat diperjualbelikan dalam tiga bentuk, yaitu ternak hidup, produk segar dan produk olahan. Ketiga jenis produk ini masing masing memiliki kelemahan tersendiri dalam penyimpanan dan pemindahannya. Ternak hidup bersifat voluminous (mengambil banyak temapt) dan bulky (berat dan kaku). Ternak hidup harus dipindahkan dengan alat dan perlakuan khusus. Risiko yang harus ditanggung dalam pemindahan ternak adalah lecet, memar, sakit, patah tulang dan mati. Produk segar: daging, telur dan susu bersifat perishable (mudah rusak), berarti menanggung risiko rusak dan busuk selama pemindahan, jika tidak disimpan pada kondisi yang tidak memenuhi syarat temperatur dan kelembaban tertentu. Produk olahan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu olahan setengan jadi dan siap saji. Kedua jenis produk ini juga masih berisiko busuk atau rusak, jika disimpan dalam waktu yang relatif lama.

D. Kelembagaan Peternak
Kelembagaan peternak di daerah pedesaan pada umumnya dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu lembaga tidak resmi dan lembaga resmi. Lembaga tidak resmi adalah berbagai kelembagaan peternak yang tidak memiliki struktur organisasi dan peraturan yang jelas, misalnya gotong royong. Lembaga resmi adalah kelembagaan peternak yang memiliki struktur organisasi dan peraturan yang jelas serta diakui pemerintah, misalnya koperasi. Peternak di daerah pedesaan yang pada umumnya hanya berpendidikan rendah kurang mengenal dan memahami tentang kelembagaan yang dapat membantu mereka untuk meningkatkan kesejahteraannya. Para peternak yang masing masing berdiri sendiri tidak punya kekuatan apapun untuk dapat bergerak ke arah yang lebih baik. Peribahasa yang berbunyi sepotong lidi sangat mudah dipatahkan, tetapi jika bersama sama terikat menjadi sapu lidi sulit dipatahkan. Peternak yang terikat dalam suatu lembaga, baik resmi mauoun tidak resmi, memiliki banyak keunggulan. Mereka akan memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan cara beternak yang lebih baik, posisi daya tawar meningkat, memperoleh permodalan lebih mudah, skala usaha men ingkat dan kesejahteraan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Galihghung
2009 - 2016